Moralitas Sains dalam Perkembangan Teknologi Modern: Tanggung Jawab Ilmuwan dalam Era Kecerdasan Buatan dan Bioteknologi
DOI:
https://doi.org/10.56832/edu.v5i3.2616Kata Kunci:
Moralitas Sains, Teknologi Modern, Tanggung Jawab Ilmuwan, Kecerdasan Buatan, BioteknologiAbstrak
Perkembangan sains dan teknologi modern telah menghadirkan perubahan mendasar dalam kehidupan manusia, terutama melalui kemajuan kecerdasan buatan dan bioteknologi. Teknologi tidak lagi sekadar berfungsi sebagai alat bantu teknis, melainkan telah menjadi kekuatan sosial yang membentuk cara berpikir, struktur nilai, dan arah peradaban manusia. Di balik manfaatnya yang besar, perkembangan tersebut juga memunculkan berbagai persoalan moral, seperti dehumanisasi, ketimpangan sosial, bias algoritmik, pelanggaran privasi, serta dilema etis dalam intervensi terhadap kehidupan biologis manusia dan lingkungan. Artikel ini bertujuan menganalisis moralitas sains dalam konteks perkembangan teknologi modern dengan menekankan tanggung jawab moral ilmuwan serta implikasi etis kecerdasan buatan dan bioteknologi terhadap kehidupan manusia dan masa depan peradaban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka terhadap literatur filsafat sains, etika teknologi, dan dokumen kebijakan etik internasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa sains tidak pernah sepenuhnya bebas nilai dan selalu mengandung dimensi moral dalam proses pengembangan maupun penerapannya. Oleh karena itu, moralitas sains menjadi landasan normatif yang esensial untuk mengarahkan perkembangan teknologi agar tetap selaras dengan nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan keberlanjutan peradaban manusia.
Referensi
Bakhtiar, A. (2018). Filsafat ilmu. Jakarta: Rajawali Pers.
Bostrom, N. (2014). Superintelligence: Paths, dangers, strategies. Oxford: Oxford University Press.
Floridi, L. (2013). The ethics of information. Oxford: Oxford University Press.
Fromm, E. (2013). To have or to be? London: Bloomsbury Academic.
Habermas, J. (1987). The theory of communicative action (Vol. 2). Boston, MA: Beacon Press.
IEEE. (2019). Ethically aligned design: A vision for prioritizing human well-being with autonomous and intelligent systems (1st ed.). New York, NY: IEEE Press.
Jonas, H. (1984). The imperative of responsibility: In search of an ethics for the technological age. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Kaelan. (2019). Filsafat ilmu. Yogyakarta: Paradigma.
Moleong, L. J. (2021). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Piliang, Y. A. (2020). Hiperrealitas dan kebudayaan digital. Bandung: Humaniora.
Rawls, J. (1999). A theory of justice (Revised ed.). Cambridge, MA: Harvard University Press.
Sandel, M. J. (2007). The case against perfection: Ethics in the age of genetic engineering. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Stiglitz, J. E. (2019). People, power, and profits: Progressive capitalism for an age of discontent. New York, NY: W. W. Norton & Company.
Sugiyono. (2020). Metode penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Suriasumantri, J. S. (2015). Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
UNESCO. (2022). Recommendation on the ethics of artificial intelligence. Paris: UNESCO Publishing.
Vallor, S. (2016). Technology and the virtues: A philosophical guide to a future worth wanting. Oxford: Oxford University Press.
Verbeek, P. P. (2011). Moralizing technology: Understanding and designing the morality of things. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Winner, L. (1980). Do artifacts have politics? Daedalus, 109(1), 121–136.
Zuboff, S. (2019). The age of surveillance capitalism: The fight for a human future at the new frontier of power. New York, NY: PublicAffairs.



