Posisi Manusia di Hadapan Ilmu Menurut Hadis: Refleksi atas Tantangan Pendidikan di Era Distraksi Digital

Penulis

  • Ridha Khairani Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan
  • Devi Indah Sari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan
  • Farhan Abdul Ghani Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan
  • Muhammad Fadhli Azmi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan
  • Ali Imran Sinaga Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

DOI:

https://doi.org/10.56832/mudabbir.v5i2.2233

Kata Kunci:

Hadis, Ilmu, Pendidikan Islam, Distraksi Digital

Abstrak

Disrupsi teknologi dan munculnya fenomena distraksi digital yang meluas telah menciptakan tantangan yang mendalam bagi ekosistem pendidikan kontemporer. Studi ini bertujuan untuk melakukan refleksi ulang terhadap kedudukan fundamental manusia dalam menghadapi ilmu pengetahuan (intelektual dan spiritual) melalui kacamata ajaran Hadis Nabi Muhammad SAW. Secara konsisten, Hadis menempatkan manusia sebagai entitas yang secara esensial terikat pada kewajiban untuk mencari dan mengamalkan ilmu (talab al-'ilm), bahkan menganugerahkan gelar terhormat sebagai ahli waris para nabi kepada ulama. Temuan utama dari analisis tekstual ini menunjukkan bahwa nilai inti dari proses edukasi dalam Islam berpusat pada pencapaian ketakwaan dan ketundukan batin (khashyah) kepada Sang Pencipta, suatu dimensi yang jauh melampaui sekadar proses akumulasi dan transfer data semata. Prinsip ini sangat vital untuk menyeimbangkan kecenderungan pendidikan modern yang rentan tereduksi menjadi hanya data-literacy di tengah gemuruh informasi digital. Kajian ini menyoroti peran sentral dari konsep Hadis tentang ilmu yang bermanfaat ('ilm nafi'). Konsep ini menyediakan kerangka kerja etis dan epistemologis yang dibutuhkan untuk mengarahkan fokus baik pendidik maupun peserta didik. Dengan berpegangan pada 'ilm nafi', upaya pendidikan dapat secara strategis menjauhi segala bentuk distraksi dan informasi tidak produktif yang ditawarkan oleh lingkungan digital, sekaligus menegaskan pentingnya internalisasi nilai-nilai moral (adab) sebagai hasil akhir dari pembelajaran. Pada akhirnya, refleksi Hadis ini menegaskan perlunya reorientasi filosofis dalam pendidikan untuk membentuk pribadi yang paripurna (insan kamil) yang memiliki kontrol diri, kecerdasan digital, dan integritas moral yang kokoh sebagai respons terhadap fragmentasi perhatian di era digital.  

##submission.downloads##

Diterbitkan

2025-12-24

Terbitan

Bagian

Table of Content | Artikel