Makna Simbolik Satu Tungku Tiga Batu dalam Perspektif Pendidikan Budaya: Studi Arsitektur Masjid Pattimburak Fakfak
DOI:
https://doi.org/10.56832/edu.v5i3.2550Keywords:
Satu Tungku Tiga Batu, Pendidikan budaya, Makna simbolik, Arsitektur masjidAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik kearifan lokal Satu Tungku Tiga Batu dalam perspektif pendidikan budaya yang terepresentasi pada arsitektur Masjid Pattimburak di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan pencatatan lapangan yang dilakukan di Kampung Pattimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filosofi Satu Tungku Tiga Batu dipahami masyarakat Fakfak sebagai sistem nilai budaya yang mengajarkan kebersamaan, persaudaraan, dan integrasi sosial lintas perbedaan agama. Konsep ini dimaknai sebagai simbol tiga agama besar, yaitu Islam, Kristen Protestan, dan Katolik, yang menjadi penopang keharmonisan kehidupan keluarga dan masyarakat. Makna simbolik tersebut tercermin secara nyata dalam arsitektur Masjid Pattimburak yang memadukan unsur bangunan masjid dan gereja, sehingga merepresentasikan nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Dalam perspektif pendidikan budaya, arsitektur Masjid Pattimburak berfungsi sebagai media pembelajaran kontekstual yang mentransmisikan nilai-nilai kearifan lokal, moderasi beragama, dan pendidikan multikultural kepada masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa kearifan lokal Satu Tungku Tiga Batu tidak hanya berperan sebagai identitas budaya, tetapi juga sebagai sumber nilai pendidikan yang relevan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis dan damai.
References
Arneta, D. C., & Wahana, P. (2025). Penanaman nilai toleransi melalui kearifan budaya lokal dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(2), 1–10. https://doi.org/10.23969/jp.v10i02.27003
Assingkily, M. S. (2021). Metode Penelitian Pendidikan: Panduan Menulis Artikel Ilmiah dan Tugas Akhir. Yogyakarta: K-Media.
Banks, J. A. (2015). Cultural diversity and education: Foundations, curriculum, and teaching (6th ed.). New York, NY: Routledge.
Fihayati, Z., Rezania, V., Indrakurniawan, M., & Salsabila, A. (2025). Pembelajaran budaya terkini: Meningkatkan karakter religius, toleransi, dan patriotisme siswa melalui permainan berbasis kearifan lokal. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(03), 1–15. https://doi.org/10.23969/jp.v10i03.32116
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. New York, NY: Basic Books.
Lestari, R. E., Khoirunnikmah, I., & Zamroni, Z. (2024). Pendidikan multikultural dalam Islam: Reog Singo Budoyo sebagai simbol toleransi beragama di Kutai Barat Jurnal Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Borneo, 5(2), 171–180. https://doi.org/10.21093/jtikborneo.v5i2.8274
Normalita, A. (2023). Nilai-nilai toleransi hasil akulturasi budaya pada Masjid Mantingan Jepara. Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial, 7(1), 133–142. https://doi.org/10.22219/satwika.v7i1.24353
Riyadi, A., & Saerozi, S. (2025). Internalization of religious tolerance through cross-cultural dialogue in Kendal’s art performances. International Journal Ihya’ 'Ulum al-Din, 24(2), 1–15. https://doi.org/10.21580/ihya.24.2.11377
Rahyono, F. X. (2009). Kearifan budaya dalam kata. Jakarta, Indonesia: Wedatama Widya Sastra.
Rapoport, A. (1982). The meaning of the built environment: A nonverbal communication approach. Beverly Hills, CA: Sage Publications.
Suhartini. (2009). Kearifan lokal dalam pendidikan. Yogyakarta, Indonesia: UNY Press.
Tilaar, H. A. R. (2012). Pendidikan, kebudayaan, dan masyarakat madani Indonesia. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya.
UNESCO. (2017). Education for sustainable development goals: Learning objectives. Paris: UNESCO Publishing.



