Pengalaman Merasa Menjadi Bagian Dari Komunitas Paguyuban Mahasiswa Pasundan (PAMAPAS) di UIN Walisongo Semarang
DOI:
https://doi.org/10.56832/mudabbir.v5i2.2170Kata Kunci:
Pengalaman, Rasa Kebersamaan, Komunitas PAMAPASAbstrak
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengalaman mahasiswa Sunda dalam membangun sense of community sebagai anggota Paguyuban Mahasiswa Pasundan (PAMAPAS) di UIN Walisongo Semarang. Menggunakan pendekatan fenomenologi, penelitian ini menelusuri makna subjektif keanggotaan melalui wawancara mendalam dengan empat informan. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman, meliputi reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek membership dipahami sebagai “rumah kedua” yang memberikan rasa aman, penerimaan, dan kedekatan budaya. Pada aspek influence, nilai Sunda seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh membentuk pola interaksi yang memungkinkan anggota merasa memiliki peran dan suara dalam komunitas. Aspek integration and fulfillment of needs tercermin dari terpenuhinya kebutuhan emosional, sosial, dan pengembangan diri, terutama sebagai bentuk dukungan selama merantau. Sementara itu, shared emotional connection terbentuk melalui kegiatan rutin seperti ngeliwet, perayaan Idul Adha, dan interaksi informal yang memperkuat ikatan emosional. Temuan ini menegaskan bahwa praktik budaya Sunda berkontribusi signifikan dalam membangun rasa memiliki dan solidaritas, serta berfungsi sebagai dukungan adaptif bagi mahasiswa perantau.










